DaerahTabanan

Kunjungan Wisatawan Turun 20 Persen Justru Pendapatan DTW Tanah Lot Tabanan Lampaui Target Tembus Rp 71,9 Miliar

Newtvkaori.com | TABANAN – Ditengah penurunan jumlah kunjungan wisatawan sepanjang tahun 2025, Daya Tarik Wisata (DTW) Tanah Lot justru menunjukkan ketahanan sektor pariwisata melalui capaian pendapatan yang meningkat sangat signifikan.

Kondisi ini menegaskan bahwa kualitas pengelolaan dan nilai pengalaman wisata masih menjadi kekuatan utama ikon pariwisata Tabanan tersebut.

Berdasarkan data pengelola, jumlah kunjungan wisatawan ke DTW Tanah Lot tercatat menurun sekitar 20 persen sejak 1 Januari hingga 30 Desember 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, total kunjungan mencapai 1.412.728 orang lebih rendah dibandingkan tahun 2024 yang mencatatkan 1.793.821 kunjungan dan bahkan melampaui target.

Manajer Operasional DTW Tanah Lot, I Wayan Sudiana mengungkapkan bahwa meskipun sempat terjadi lonjakan kunjungan menjelang libur Natal, secara akumulatif angka kunjungan masih belum mampu menutup penurunan sejak awal tahun.

“Saya pribadi berpikir apa yang dikatakan di media sosial (medsos) itu adalah cerminan diri kemungkinan benar adanya seperti itu,” kata Manajer Operasional DTW Tanah Lot I Wayan Sudiana, saat diwawancarai awak media di Kabupaten Tabanan, Rabu, 31 Desember 2025.

Namun menariknya, penurunan jumlah wisatawan tidak berbanding lurus dengan pendapatan. Hingga 30 Desember 2025, DTW Tanah Lot mencatat pendapatan sebesar Rp 71 miliar 916 juta, meningkat dari capaian tahun 2024 yang berada di angka Rp 64 miliar 350 juta.

“Itu sudah melebihi target, meski tidak linier, memang kunjungan wisatawan turun dibandingkan tahun 2024 lalu itu ramai. Pariwisata khan pasang surut, kita tidak bisa hitung target, misalnya tahun lalu 2 tapi sekarang 4. Itu tidak seperti itu. Banyak potensi bahaya dan segala macam. Kita khan lihat juga itu. Kalau wisata khan beda dengan kebutuhan pokok,” ungkapnya.

Menurut Wayan Sudiana, wisatawan yang berkunjung ke Tanah Lot masih didominasi oleh wisatawan luar Bali dan mancanegara, terutama dari Australia dan India. Pola kunjungan pun cenderung fluktuatif, mengikuti momentum liburan dan kondisi global. “Pas liburan itu India mendominasi, tapi kemarin dari Australia,” ungkapnya.

Ia menilai, penurunan kunjungan tidak lepas dari berbagai faktor eksternal seperti bencana alam di awal 2025 hingga potensi resesi global yang membuat wisatawan menahan pengeluaran. “Jangan dulu berwisata jika ekonomi membaik barulah ke Bali. Mungkin seperti itu kalau kita amati,” kata Wayan Sudiana.

Selain faktor ekonomi global, persoalan kemacetan lalu lintas menjadi tantangan serius, khususnya bagi wisatawan yang ingin menikmati panorama matahari terbenam di Tanah Lot.

“Terkadang tour-nya tidak pas, misalnya pagi hari ke DTW Ulun Danu Beratan terus lanjut ke tmpt wisata lainnya, lalu pas mau sore hari ternyata macet di jalan. Disini DTW Tanah Lot tutup jam 7 malam, dalam perjalanan sudah jam 6.30 malam misalnya macet di Kediri tidak pas lagi. Itu sunset-nya sudah turun. Jadi, pengaruh di infrastruktur jalan kemacetan ini berpengaruh,” kata Wayan Sudiana.

Ia pun mendorong kolaborasi lintas sektor untuk mencari solusi konkret terhadap persoalan infrastruktur tersebut.

“Karena usulan kita juga sudah masuk pernah FGD dengan Pemerintah lewat Kementerian juga kita sampaikan seperti itu,” urainya.

Dari sisi internal, pengelola terus menjaga kualitas kawasan, fasilitas dan kebersihan demi memberikan pengalaman terbaik bagi wisatawan.

“Didalam sudah kita usahakan sesuai dengan ekspektasi daripada wisatawan, tapi menuju hal ini kita upayakan bersama-sama bagaimana nanti kesini atau ke Kuta dan Uluwatu juga mengalami hal yang sama di Bali,” tambahnya.

Ia juga menyoroti pengalaman wisatawan sejak tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai yang kerap terganggu kemacetan.

“Kalau kita disini mungkin sabar, tapi mereka yang datang itu ingin berwisata kok macet. Itu cerminan kita sampai ada penurunan itu,” terangnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Wayan Sudiana tetap optimistis terhadap prospek pariwisata Tanah Lot pada 2026 dengan tetap menjaga daya tarik spiritual dan alam yang menjadi ciri khas kawasan tersebut.

“Mudah-mudahan masalah itu bisa diatasi. Jadi, saya optimis, karena kita yakin tetap menjaga aura DTW Tanah Lot. Jadi, tagline kami: Anda bukan berkunjung, tapi Anda dipanggil untuk ke Tanah Lot. Disinilah auranya itu,” ujarnya.

Menurutnya, keunikan Tanah Lot tidak hanya terletak pada panorama alam, tetapi juga aura spiritual yang melekat kuat.

“Sunset dilihat dari tempat yang lain itu bagus, tapi jika dari Tanah Lot itu Anda dipanggil ke Tanah Lot untuk itu. Disinilah leluhur masih menunggu Anda,” paparnya.

Terkait fasilitas penunjang, pengelola masih mengandalkan kolaborasi dengan masyarakat dan pelaku usaha lokal, termasuk dalam penyediaan toilet umum yang memenuhi standar kenyamanan.

“Terkadang toilet masyarakat juga ada, meski kami juga punya Toilet. Bagi wisatawan mencari toilet, kita punya toilet dan juga masyarakat. Jadi, kita berupaya melakukan supervisi bagaimana standarnya itu, baik penyediaan air dan tissue,” kata Wayan Sudiana.

Ia juga menyinggung Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan dan Desa Adat Beraban yang akan berakhir pada 17 November 2026. Dengan mempertimbangkan tren kunjungan saat ini, target pendapatan 2026 diusulkan sebesar Rp 72,5 miliar.

“Situasi sekarang ini juga kami juga sudah hitung, karena kami mengalami penurunan itu sudah dari bulan Januari 2025. Jadi, kami usulkan ke Badan Pengelola itu akan dibahas, apakah akan diputuskan seperti itu atau bagaimana nanti. Kami yang buat dan hanya bisa usulkan itu,” pungkasnya. (ace).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *